Minggu, 04 Desember 2011

Hamba yang Salat Subuhnya Dibangunkan Iblis.....



Konon, seorang saleh selalu terbangun sebelum subuh. Dia selalu salat subuh pada waktunya. Sepertinya ada kekuatan tak terlihat yang membuatnya terjaga. Entah bagaimana, akhirnya  dia ketahui bahwa iblis-lah yang “menggangunya” sehingga dia selalu dapat mengerjakan salat itu dengan baik. Aneh bukan? Iblis ikut membantu hamba itu untuk taat. Ketika seorang diantara bala tentara iblis bertanya, mengapa iblis malah membantunya untuk terjaga iblis menjawab, “Dahulu, dia pernah kehilangan salat subuhnya. Dan dia mengganti kesalahannya dengan ibadah yang jauh lebih baik lagi. Dia beramal saleh, dia bersedekah, dia menebus kifarat, meng-qadha, dan salat begitu baiknya. Aku kuatir kalau ia kehilangan salat subuhnya lagi, ia akan melakukan hal sama”

Jumat, 02 Desember 2011

Konsep Pengampunan Dalam Islam


Berapa pun besarnya dosa manusia, maka Allah akan mengampuninya. Tetapi ada syaratnya. Syaratnya yaitu bahwa orang yang berdosa tersebut mau mengakui dosa-dosanya dan menyatakan penyesalan atas semua dosa-dosanya kemudian mohon ampun kepada Allah dengan sunguh-sungguh. Dengan kata lain, orang yang akan diampuni dosanya oleh Allah hanyalah orang yang mau bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya.


Sebagaimana firman Allah yang dapat kita baca dalam kitab sebagai berikut;


Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Q.S, 39:53)


Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). .(Q.S, 39:54)


Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu* sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, .(Q.S, 39:55)
supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah), .(Q.S, 39:56)


atau supaya jangan ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa’. .(Q.S, 39:57)


Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ‘Kalau sekiranya aku dapat kemnbali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik’. .(Q.S, 39:58)
——————————–
*apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dalam ayat 55 diatas bisa dirujuk kepada ayat berikut ini;


“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka. (Al-Quran, 39:41)

Kamis, 01 Desember 2011

Jangan Takut Menikah, Rejeki di Tangan Tuhan.....


Banyak pertimbangan mengapa kaun Pria dan Wanita saat ini cenderung ragu dan takut untuk melangkah kejenjang pernikahan.Salah satunya adalah Karena faktor finansial alias Uang.


Apa lagi di beberapa daerah tertentu ditanah air kita,kultur dan adat istiadat yang berbeda-beda makin memperkaya hasanah budaya  bangsa Indonesia.Menikah dan punya anak mungkin akan menjadi pertimbangan yang cukup besar bagi sepasang Pria dan wanita dalam membentuk sebuah keluarga.


Membayangkan kehidupan yang akan dijalani selanjutnya setelah mengarungi hidup berumah tangga memang terasa berat,apalagi jika sang pria  belum memiliki Pekerjaan tetap dan belum mapan secara finansial.

Sejauh mana ukuran tingkat kemapanan seseorang?
Jika diukur  dari  kemapanan secara finansial,bisa jadi seseorang Pria ataupun wanita akan sulit untuk memutuskan cepat atau lambatnya mereka menuju jenjang pernikahan,rasa ragu menatap masa depan setelah menikah dan akhirnya mempunyai keturunan justru membayangi.


Bagi kaum Wanita memilih pria yang memiliki pekerjaan tetap dan penghasilan yang dianggap cukup,menjadi sebuah pertimbangan yang besar.Apa lagi jika Sang wanita tidak memiliki pekerjaan atau kegiatan yang menghasilkan ” Sesuatu” (ngambil iconnya syahrini..hehehe).


Bagi saya memilih pasangan hidup yang mempunyai jiwa kepemimpinan dan rasa tanggung jawab serta seorang pekerja keras,itu merupakan modal awal bagi seorang pria untuk dijadikan pendamping.

Sebagai manusia,tugas kita hanyalah berusaha sebaik mungkin berjuang dan bekerja.Percayalah Rejeki itu sudah diatur namun wajib diusahakan untuk diperoleh.Tentunya mendapatkan rejeki dengan cara bekerja yang halal.

Berhasil atau tidak Tuhan-lah yang menentukan,orang kaya dibelahan dunia manapun tetap bekerja dan berusaha keras untuk mendapatkan rejeki.
Tidak  pantas kita berputus asa,sedangkan usaha yang kita lakukan hanya sedikit,tidak ada salahnya jika kita mencontoh orang-orang sukses.
Meskipun banyak kasus dimasyarakat,dimana faktor ekonomi yang memicu tindak kriminal  dan kekerasan dalam rumah tangga.kasus bunuh diri,membunuh istri,suami,bahkan membantai anak kandung sendiri hanya karena putus asa menghadapi cobaan hidup.

Ada juga anggapan,menjadi seorang PNS ( Pegawai Negeri Sipil) atau kerja kantoran yang mendapatkan gaji per bulan merupakan modal yang besar untuk menikah,karena penghasilan tiap bulan  sudah didepan mata.sehingga muncul sikap Under Estimate terhadap orang yang pekerjaannya hanya bergantung pada pekerjaan musiman ( pekerja proyek,petani).

Ada sedikit pengalaman dari saudra saya,beliau merasakan begitu beratnya membesarkan 8 orang anak,sedangkan suaminya  bekerja apa saja yang halal demi  menghidupi anak-anaknya.
Meskipun suaminya bukanlah seorang PNS  atau pegawai kantoran,tapi sedikit demi sedikit dengan tekad dan semangat yang tinggi,akhirnya  mereka mampu menyekolahkan  ( 8 anaknya) hingga  tingkat Sarjana.

Menjadi PNS ataupun Pegawai kantoran yang berbekal gaji bulanan,bukanlah jaminan utama keberhasilan seseorang dalam berumah tangga.Faktor utama adalah,ketekunan,dan rasa tanggung jawab tanpa kenal lelah.Menciptakan lapangan pekerjaan buat diri dan orang lain akhirnya berhasil dilakoni suami saudara saya.

Saya percaya Rejeki ditangan Tuhan,dengan berbekal keyakinan,kekuatan hati serta kerja keras,Insya Allah kita akan terus melanjutkan hidup tanpa harus takut untuk menikah dan mempunyai keluarga.

Jika ragu  menikah karena takut tidak bisa menghidupi anak-anak dan keluarga,sampai kapanpun kita tidak akan menikah,jika bayang ketakutan itu terus menghantui,maka tinggallah kita seorang diri dan menjadi seorang “Pecundang” sejati.

Mulai Musnahnya Budaya Bangsaku......

Bangsa Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang dikenal dengan keragaman budayanya mulai dari suku, bahasa dan adat-istiadat. Kekayaan budaya yang melintang dari Sabang sampai Marauke. Hal tersebut bahkan dapat diperkuat dengan data UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization ) menyebutkan bahwa bangsa Indonesia memiliki sekitar 1128 suku dan 726 bahasa daerah (Antaranews,2011). Ini telah menjadi bukti dari kebesaran dan kehebatan Indonesia di mata dunia, namun gambaran tersebut tidak sesuai dengan kenyataannya. Negara yang secara geografis terletak di sebelah timur planet bumi, ternyata tidak dapat dikatakan sesuai dengan posisinya sebagai negara yang berbudaya timur juga. Kenapa ? . Dikarenakan indonesia adalah cerminan negara barat yang ada di timur.

Ada hal yang harus menjadi perhatian kita bersama, kekayaan kebudayaan, suku, adaat-istiadat dan bahasa yang dimiliki oleh indonesia ternyata hanya sebagai hiasan saja. Di era globalisasi saat ini, nilai-nilai budaya dan kesukuaan yang terdapat di tiap-tiap daerah diseluruh wilayah nusantara tampak mulai pudar, dikarenakan kaum muda bangsa yang seharusnya sebagai pelaku penting dalam melestarikan , menjaga keharmonisan, keasliaan serta kemurniaan dari bahasa dan suku di Indonesia sudah sangat menurun sekali. Kertarikan kaum muda di Indonesia akan budaya daerah sudah sampai pada level yang sangat-sangat mengkhawatirkan. Banyak dari pemuda kita yang sibuk dengan budaya bangsa lain seperti demam K-Pop (Korean pop), lagu India (Bollywood) dan musik hip-hop barat. Ini bukti kegagalan kita sebagai warga negara Indonesia untuk melestarikan kebudayaan bangsa.

Kasus yang pernah diliput oleh salah satu TV swasta menayangkan tentang kepergiaan dari sekelompok penari wayang guna memperkenalkan budaya Indonesia ke benua Eropa, namun hal yang mengejutkan adalah para penarinya orang-orang tua . Dimana anak-anak mudanya ?. Seharusnya merekalah yang menjadi penerus kebudayaan bangsa saat ini. Mereka sudah terhisap kedalam gelombang globalisasi budaya asing yang dengan kuat merasuki kaum muda. Mereka sudah pada meninggalkan tarian daerah mereka masing-masing.

Lalu, informasi yang paling mengejutkan lainnya adalah banyaknya budaya-budaya bangsa kita seperti kasus Tari Pendet, Reog Ponorogo dan sampai lagu Rasa Sayange dapat dengan mudah diklaim oleh negara tetangga Malaysia. Karena banyak dari warga kita yang sangat peduli dengan budaya bangsa sendiri. Selain itu, banyaknya warga asing yang sangat tertarik dalam mempelajari tentang budaya-budaya tradisional yang ada di Indonesia. Gambaran yang sangat mengejutkan ketika mengetahui kabar bahwa bangsa kita akan mununggu kapan akan kehilangan semua kekayaannya. Ini sungguh kronis sebagai bangsa yang kaya akan budaya, dengan mudahnya direbut oleh bangsa lain, namun kita hanya bisa diam dan tidak dapat melakukan apa-apa guna menghadapi masalah serius seperti ini.

Kebudayaan indonesia yang mulai terkikis dengan adanya budaya-budaya luar yang telah masuk dan banyaknya anak-anak muda bangsa indonesia lebih menyukai sehingga mereka melupakan budaya daerah mereka sendiri. Lalu, pernyataan dari mantan menteri pendayagunaan aparatur negara (Menpan) Taufiq Effendi dan mantan sekretaris umum badan pekerja kongres kebudayaan Eka Budianta serta seorang pelaku seni Sunda Ma Egeng, Eka mengatakan bahwa ungkapan sebagai bangsa yang besar adalah bangsa yang sangat menghargai budaya , namun itu tidak berlaku bagi Indonesia. (Suara Pembaruan, 2008).

Apabila hal ini terus-menerus di pertahankan tanpa adanya perubahaan maka dapat mengakibatkan kehancuran, kehilangan dan kelenyapan dari kebudayaan Indonesia dengan sendirinya. Sebagai warga negara Indonesia sudah saatnya kita peduli dengan kebudayaan bangsa karena budaya adalah cerminan dari kepribadian bangsa itu sendiri.

Sabtu, 12 November 2011

Mengapa Masalahku Makin Banyak???




Tidak ada orang yang hidup di dunia ini tanpa masalah. Yang membedakan adalah ada orang yang punya masalah banyak tapi ada orang yang punya masalah sedikit. Ada orang punya masalah dan putus asa bahkan sampai bunuh diri, tetapi ada juga orang yang mengalami masalah yang sama bisa mengatasinya dengan baik.

Sebenarnya banyak tidaknya masalah tergantung kepada kita sendiri. Apakah kita mau menjadikan masalah atau tidak. Orang di sebelah kita yang tiba-tiba tertawapun bisa kita permasalah kalau kita menganggap dia sedang mentertawakan kita. Kopi yang akan kita minum tiba-tiba tumpah bisa kita permasalahkan. Jadi banyaknya tidaknya masalah dalam hidup kita tergantung kepada apakah kita mempermasalahkan atau tidak.

Ketika krisis ekonomi terjadi di Indonesia tahun 1997, banyak orang mengalami masalah tapi untuk orang tertentu justru merupakan kesempatan sehingga muncullah orang-orang kaya yang baru. Mereka bahkan bisa menjual bahan-bahan seperti sabun lux ke luar negeri dalam jumlah kontainer yang tidak sedikit. Keuntungan justru bisa diraih di tengah situasi oleh sebagian orang dianggap bermasalah. Jadi orang-orang seperti ini justru melihat masalah sebagai kesempatan.

Pandangan kita terhadap masalah akan menentukan menentukan keputusan kita. Jika kita terus terfokus mempermasalahkan masalah, maka kita kehilangan peluang untuk meraih sesuatu di balik masalah itu sendiri.

Apalagi kita percaya bahwa Allah telah berjanji untuk menolong kita dengan memberikan jalan keluar pada setiap masalah yang kita hadapi.

Lihatlah masalah sebagai peluang untuk meraih prestasi, bukan sebagai masalah yang perlu dipermasalahkan.

Selamat berkarya !

Lelaki Berambut Gondrong…




Apa yang anda pikirkan tentang lelaki yang berambut gondrong??? Saya rasa jawaban anda tidak jauh dari “Jahat alias is very2 bad”. Kebanyakan orang Indonesia(brarti termasuk suami saya dulu dong… //^_^) juga mengidentikkan lelaki yang berambut gondrong dengan urakan, awut2an, gak jelas dan semua hal yang berbau negatif. Tapi untuk yang satu ini mungkin pendapat saya berbeda dengan anda. Saya kurang sependapat jika lelaki berambut gondrong diidentikkan dengan segala hal yang berbau negatif (karena suami saya sendiri dulu juga berambut gondrong dan tentunya tidak jahat, hihihihihihi).

Mengapa kebanyakan orang mengidentikkan gondrong dengan hal yang berbau negatif,? silahkan anda jawab sendiri karena anda yang tahu jawabanya. Tapi kalau saya boleh menjawab, mungkin salah satunya adalah “Preman”. Ya, kebanyakan penjahat jalanan_preman pasti berambut gondrong dan image itu tertanam kuat dalam pikiran setiap orang bahwa orang yang berambut gondrong pasti orang yang jahat. Saya sendiri mempunyai banyak teman yang berambut gondrong dan mereka orang2 yang baik. Ketika saya tanya mengapa berambut gondrong? jawaban mereka adalah berambut gondrong karena ingin mengekspresikan diri bukan untuk dianggap seram.

Tapi pernahkah anda perhatikan bahwa perjahat yang lebih jahat dari segala penjahat malah berambut pendek, rapi dan tentu saja klimis. Contohnya saja para Koruptor yang memakan duit milliaran, apakah anda pernah melihat koruptor yang berambut Gondrong? saya rasa jarang atau bahkan tidak ada. Intinya adalah “Jangan menghakimi seseorang dari luar” _ “Don`t judge the book from the cover”

Jumat, 11 November 2011

Tabah dan Kesehatan





Siapa pun kita, tidak ada yang bebas dari tekanan hidup atau stres. Bagaimana kita menyikapi atau merespon stres, ternyata sangat membedakan kita satu sama lain.

Ada orang yang mudah mengeluh dan mudah menyerah dalam menghadapi tekanan hidup. Ada pula yang begitu tegar, optimistis, dan memandang tekanan hidup sebagai tantangan yang dapat dihadapi. Perbedaan ini dapat disebut perbedaan dalam ketabahan menghadapi stres. Ketabahan hati ternyata memiliki manfaat yang sangat besar bagi kesehatan fisik dan mental kita.

Ketabahan hati, keteguhan hati, atau hardiness, merupakan topik yang jarang dibicarakan dalam psikologi. Untunglah, hal tersebut masih menjadi perhatian sebagian kalangan psikologi, sehingga kita dapat memanfaatkan pengetahuan mengenai ketabahan hati untuk keperluan praktis dalam menghadapi persoalan hidup.

Dalam uraian ini kita akan menemukan pengertian, komponen-komponen, dan manfaat dari ketabahan hati.

Pengertian
Kobasa dkk. dalam Journal of Personality and Social Psychology (1982) menjelaskan ketabahan hati sebagai suatu konstelasi karakteristik kepribadian yang berfungsi sebagai sumber daya untuk menghadapi peristiwa-peristiwa hidup yang menimbulkan stres.

Tokoh lain, Cotton (1990), lebih jelas lagi mengartikan ketabahan hati sebagai komitmen yang kuat terhadap diri sendiri, sehingga dapat menciptakan tingkah laku yang aktif terhadap lingkungan dan perasaan bermakna yang menetralkan efek negatif stres.

Sementara Quick dkk. (1997) menyatakan ketabahan hati sebagai konstruksi kepribadian yang merefleksikan sebuah orientasi yang lebih optimistis terhadap hal-hal yang menyebabkan stres. Ini sesuai dengan pendapat Kobasa yang melihat ketabahan hati sebagai kecenderungan untuk mempersepsikan atau memandang peristiwa-peristiwa hidup yang potensial mendatangkan stres sebagai sesuatu yang tidak terlalu mengancam.

Orang yang memiliki ketabahan hati memiliki keberanian berkonfrontasi terhadap perubahan atau perbedaan dan menarik hikmah dari keadaan tersebut (Foster & Dion, 2004).

Nah, apa yang dapat Anda simpulkan mengenai ketabahan hati berdasarkan berbagai penjelasan tadi?

Komponen
Komponen atau aspek apa saja yang terdapat dalam ketabahan hati? Pengetahuan mengenai hal ini memberikan kejelasan kepada kita untuk dapat mewujudkan ketabahan dalam hidup kita.

Franken dalam bukunya Human Motivation (2002) menjelaskan adanya tiga komponen di dalam ketabahan hati. Ketiga komponen itu adalah:

1. Kontrol
Komponen ini berisi keyakinan bahwa individu dapat memengaruhi atau mengendalikan apa saja yang terjadi dalam hidupnya. Individu percaya bahwa dirinya dapat menentukan terjadinya sesuatu dalam hidupnya, sehingga tidak mudah menyerah ketika sedang berada dalam keadaan tertekan.

Individu dengan ketabahan hati yang tinggi memiliki pandangan bahwa semua kejadian dalam lingkungan dapat ditangani oleh dirinya sendiri dan ia bertanggung jawab terhadap apa yang harus dilakukan sebagai respon terhadap stres.
Seorang tokoh, DuDell, menjabarkan komponen ini menjadi empat, yaitu: (a) kerelaan dan keterampilan untuk membuat keputusan yang baik; (b) perasaan otonomi diri dan perasaan adanya suatu pilihan yang dapat diambil; (c) kemampuan untuk melihat peristiwa yang menyebabkan stres sebagai suatu bagian dari kehidupan; (d) motivasi untuk berprestasi sesuai dengan tujuan.

2. Komitmen
Komponen ini berisi keyakinan bahwa hidup itu bermakna dan memiliki tujuan. Individu juga berkeyakinan teguh pada dirinya sendiri walau apa pun yang akan terjadi.

Individu dengan ketabahan hati yang tinggi percaya akan nilai-nilai kebenaran, kepentingan dan nilai-nilai yang menarik tentang siapakah dirinya dan apa yang mampu ia lakukan. Selain itu, individu dengan ketabahan hati yang tinggi juga percaya bahwa perubahan akan membantu dirinya berkembang dan mendapatkan kebijaksanaan serta belajar banyak dari pengalaman yang telah didapat.
DuDell menjabarkan komponen ini menjadi empat, yaitu: (a) ketertarikan dan keingintahuan tentang hidup; (b) keyakinan dan ketahanan diri; (c) kerelaan untuk mencari bantuan dan dukungan sosial; (d) kemampuan mengenali nilai-nilai pribadinya yang unik dan tujuannya sendiri.

3. Tantangan
Komponen ini berupa pengertian bahwa hal-hal yang sulit dilakukan atau diwujudkan adalah sesuatu yang umum terjadi dalam kehidupan, yang pada akhirnya akan datang kesempatan untuk melakukan dan mewujudkan hal tersebut.

Dengan demikian individu akan secara ikhlas bersedia terlibat dalam segala perubahan dan melakukan segala aktivitas baru untuk bisa lebih maju. Individu seperti ini biasanya menilai perubahan sebagai sesuatu yang menyenangkan dan menantang daripada sesuatu yang sifatnya mengancam. Dengan pandangan yang terbuka dan fleksibel, tantangan dapat dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan harus dihadapi. Bahkan, tantangan dilihat sebagai kesempatan untuk belajar lebih banyak.

DuDell menjabarkan komponen ini menjadi empat, yaitu: (a) pendekatan yang fleksibel terhadap orang lain dan kondisi-kondisi tertentu; (b) memandang segala sesuatu secara positif dan optimis; (c) kerelaan untuk mengambil risiko yang membangun; (d) penghargaan serta penerimaan atas keunikan diri sendiri sebagai suatu berkah.

Tidak Mudah Jatuh Sakit
Orang yang tabah dapat memetik beberapa manfaat bagi dirinya. Wahyu Rahardjo dalam laporan penelitiannya mengenai ketabahan hati (2005) merangkum dari berbagai literatur, dan menuliskan adanya tujuh fungsi ketabahan hati ini.

1. Membantu dalam proses adaptasi
Individu dengan ketabahan yang tinggi akan sangat terbantu dalam melakukan proses adaptasi terhadap hal-hal baru, sehingga stres yang ditimbulkan tidak banyak. Sebuah penelitian membuktikan bahwa etnis Cina Kanada yang tinggal di Toronto, yang memiliki ketabahan hati lebih tinggi, lebih mudah beradaptasi dan mengurangi efek kecemasan serta tetap memiliki harga diri yang tinggi ketika mengalami diskriminasi. Sebuah penelitian lain memiliki hasil yang senada, menunjukkan bahwa ketabahan hati dapat membantu penyesuaian diri remaja pria yang melakukan wajib militer.

2. Lebih memiliki toleransi terhadap frustrasi
Sebuah penelitian terhadap dua kelompok mahasiswa, yaitu kelompok yang memiliki ketabahan hati tinggi dan yang rendah, menunjukkan bahwa mereka yang memiliki ketabahan hati tinggi menunjukkan tingkat frustrasi yang lebih rendah dibanding mereka yang ketabahan hatinya rendah.

Senada dengan hasil penelitian itu, penelitian lain menyimpulkan bahwa ketabahan hati dapat membantu mahasiswa untuk tidak berpikir akan melakukan bunuh diri ketika sedang stres dan putus asa.

3. Mengurangi akibat buruk dari stres
Kobasa yang banyak meneliti ketabahan hati menyebutkan bahwa ketabahan hati sangat efektif berperan ketika terjadi periode stres dalam kehidupan seseorang. Demikian pula pernyataan beberapa tokoh lain. Hal ini dapat terjadi karena mereka tidak terlalu menganggap stres sebagai suatu ancaman.

4. Mengurangi kemungkinan terjadinya burnout
Burnout, yaitu situasi kehilangan kontrol pribadi karena terlalu besarnya tekanan pekerjaan terhadap diri, sangat rentan dialami oleh pekerja-pekerja emergency seperti perawat dsb. yang memiliki beban kerja tinggi. Untuk individu yang memiliki beban kerja tinggi, ketabahan hati sangat dibutuhkan untuk mengurangi burnout yang sangat mungkin timbul. Sebuah penelitian memberikan hasil yang sesuai dengan pernyataan itu, yaitu perawat yang memiliki ketabahan hati tinggi, ternyata lebih sulit mengalami burnout dibanding perawat yang ketabahan hatinya rendah.

5. Mengurangi penilaian negatif terhadap suatu kejadian atau keadaan yang dirasa mengancam dan meningkatkan pengharapan untuk melakukan coping yang berhasil
Coping adalah penyesuaian secara kognitif dan perilaku menuju keadaan yang lebih baik, bertoleransi terhadap tuntutan internal dan eksternal yang terdapat dalam situasi stres. Ketabahan hati membuat individu dapat melakukan coping yang cocok dengan masalah yang sedang dihadapi. Individu dengan ketabahan hati tinggi cenderung memandang situasi yang menyebabkan stres sebagai hal positif, dan karena itu mereka dapat lebih jernih dalam menentukan coping yang sesuai.

Pernyataan dari Schult & Schult (1994) tersebut didukung oleh sebuah penelitian terhadap perawat yang menunjukkan bahwa mereka yang memiliki ketabahan hati tinggi lebih baik dalam memilih coping yang sesuai dengan masalah yang dihadapi.

6. Lebih sulit untuk jatuh sakit yang biasanya disebabkan oleh stres
Ketabahan hati dapat menjaga individu untuk tetap sehat walaupun mengalami kejadian-kejadian yang penuh stres (Smet, 1994). Karena lebih tahan terhadap stres, individu juga akan lebih sehat dan tidak mudah jatuh sakit karena caranya menghadapi stres lebih baik dibanding individu yang ketabahan hatinya rendah (Cooper dkk, 1998).

7. Membantu individu untuk melihat kesempatan lebih jernih sebagai suatu latihan untuk mengambil keputusan.
Kobasa & Pucetti (1983) menyatakan bahwa ketabahan hati dapat membantu individu untuk melihat kesempatan lebih jernih sebagai suatu latihan untuk mengambil keputusan, baik dalam keadaan stres ataupun tidak.